Halo dulur BisnisOn! Apa kabar isi dompet? Semoga cepat terisi yah. BisnisOn Blog kali ini akan membahas tentang suka dukanya jualan di media sosial. Dalam menjalani sebuah bisnis, akan jauh lebih mudah bila kita sudah memiliki mindset berjuang. Dapetin ayang aja bisa, masa bergabung di BisnisOn belum nyoba. 

Tenang aja lur! Menjadi seorang pebisnis masih bisa mengalahkan mas-mas berseragam lainnya kok. Asalkan mau bekerja keras, kamu bisa dapatkan emas. Dalam perjalanan merintis bisnis, kamu pasti pernah menemui beberapa hal yang kadang bikin hati ’nyes’ untuk diingat kembali kan? Mulai dari pembeli yang suka PHP sampai sulitnya masuk FYP. Ikuti mimin terus ya untuk cari tahu suka dukanya jualan di media sosial, biar kita bisa saling evaluasi bareng-bareng. Let’s go. 

#1. Mencari Target Pasar Itu Butuh Proses 

Jualan di media sosial, baik itu di Facebook, Twitter, Instagram, hingga TikTok memang tidak semudah membuat mie instan. Kita harus benar-benar mengetahui target pasar dari masing-masing media sosial tersebut. Kita ambil contoh dari TikTok. Menurut Ginee.com hampir sebagian besar pengguna TikTok berada di rentang usia 18-34 tahun. 

Maka dari itu, kita harus mengetahui apa saja kebutuhan mereka di usia-usia segitu. Bisa kita asumsikan, bahwa hampir sebagian besar pengguna TikTok masih mengenyam dunia pendidikan. Misalnya, kita akan mengambil pasar anak kuliahan yang kuliah di jurusan informatika. 

Tentu saja, leptop, keyboard wireless, mouse gaming atau alat-alat elektronik lainnya akan lebih cocok untuk menarik minat mereka. Dan kita bisa mempromosikan barang tersebut jauh lebih terarah.

Baca juga: Strategi pemasaran yang memanfaatkan jempol netizen 

#2. Mengumpulkan audiens itu butuh proses 

Setelah kita mengunggah konten vidio, foto, atau tulisan di media sosial seputar barang yang kita jual, tidak serta merta kita tinggalkan begitu saja dan hanya menunggu konsumen datang. Tapi kita juga perlu melakukan strategi lainnya untuk lebih menarik perhatian audiens. Untuk mendapatkan strategi bisnis lainnya, kamu bisa cek di www.bisnison.com di situ banyak informasi mengenai strategi bisnis yang bisa kamu pelajari dan aplikasikan. 

Lalu setelah semua dipelajari sambil berproses tak lupa kita juga harus rajin posting atau rajin membuat konten jualan agar orang-orang bisa tahu dan ingat bahwa kita itu jualan. 

Mengutip dari laman bisnison.com untuk memasarkan iklan, baik lewat radio, televisi, hingga media sosial seperti sekarang, harus dilakukan secara berulang-ulang supaya audiens benar-bener memperhatikan iklan yang kita pasarkan tersebut. 

Baca juga: Strategi social proof untuk meningkatkan kepercayaan pembeli di media sosial 

#3. Mengembangkan akun medsos bisnis itu butuh proses 

Untuk menarik audiens, untuk mau mengikuti akun bisnis yang teman-teman jalankan, harus ada konten yang relate dengan mereka. Misalnya, kita ambil contoh dari target pasar tadi. Kita bisa cari tahu apa saja yang sering dikeluhkan oleh orang-orang yang berkuliah di jurusan informatika tersebut. 

Misalnya, mood untuk skripsian lagi bagus, eh tiba-tiba laptop nggak mau nyala. Nah, dari keluhan-keluhan ini kita bisa memanfaatkannya sebagai media promosi dari barang yang kita jual. Contohnya, teman-teman bisa memasarkan produk laptop dengan spesifikasi dewa biar nggak gampang mati-matian. 

Kalian juga bisa menambahkan beberapa jumlah followers atau like di akun media sosial bisnismu untuk menambahkan kepercayaan audiens. Seperti yang kita ketahui, jumlah followers di media sosial terutama di TikTok seakan menjadi kelas sosial yang memberikan kesan seberapa kredibel atau terkenal akun tersebut.

Kami sebagai penyedia layanan SMM Panel di Indonesia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan kalian untuk memilih kami sebagai teman menemani perjalanan bisnis di media sosial. Kami juga sangat terbuka untuk mendengarkan keluh kesah kalian terhadap kualitas pelayanan kami. Mulai dari pelayanan, fitur, dan keluhan bug. Mohon bantu kami dengan klik ‘tulisan ini’ untuk bisa saling terhubung lebih dekat.