Halo rekan BisnisOn! Apa kabar semuanya? Semoga kalian dalam keadaan sehat selalu ya. BisnisOn Blog kali ini akan membahas tentang 3 hal krusial dalam mengelola kanal media sosial Instagram, yang kadang suka dilupakan oleh orang. Kamu pernah nggak merasa Instagram bisnismu sudah aktif, tapi hasilnya segitu saja? Konten jalan. Story rutin. Feed kelihatan rapi. Tapi kenapa DM sepi? Kenapa yang nanya cuma itu-itu lagi? Tenang, banyak yang merasakan hal serupa. Sampai banyak brand akhirnya mulai melirik jasa kelola media sosial karena sadar ada yang tidak beres, meski susah menunjuk tepatnya di mana.
Instagram bisnis hari ini bukan cuma diposisikan sebagai tempat upload konten. Tapi juga sebagai ruang observasi audiens dan pengunjung platform. Orang datang untuk melihat cara kamu berbicara, cara kamu merespons, dan cara kamu memahami mereka. Tidak heran kalau banyak bisnis mempercayakan pengelolaannya pada Agensi Digital & Kreatif Indonesia seperti Coulava yang memang terbiasa bermain di lapangan, bukan cuma di teori.
Kalau ditarik benang merahnya, ada tiga hal krusial yang menentukan apakah Instagram bisnis kamu benar-benar bekerja atau sekadar terlihat aktif. Tiga hal ini kelihatannya sederhana, tapi dampaknya besar. Sudah sejauh mana kamu memperhatikannya?
1. Content Strategy: Konten Kamu Sebenarnya Mau Dibawa ke Mana?

Coba jawab jujur. Kalau ada orang baru buka Instagram bisnis kamu hari ini, dalam 10 detik pertama, dia langsung paham kamu ini siapa dan ngapain, atau malah bingung?
Banyak akun rajin posting, tapi kehilangan arah. Hari ini edukasi. Besok hiburan. Lusa promosi. Minggu depannya ikut tren yang lagi rame. Semua kelihatan oke satu-satu, tapi saat digabung, rasanya tidak menyatu.
Yang harus kamu catat, content strategy berfungsi sebagai arah. Ia membantu kamu menjawab pertanyaan dasar:
- topik apa yang ingin terus kamu bangun,
- masalah apa yang ingin kamu temani audiensnya,
- posisi apa yang ingin kamu ambil di kepala mereka.
Tanpa strategi, konten mudah habis di tenaga. Banyak ide keluar, tapi tidak membangun apa-apa secara jangka panjang.
Di praktik lapangan yang sering dibagikan Coulava di website pribadinya, akun yang stabil justru bukan yang paling ramai, tapi yang paling konsisten arahnya. Audiens tahu harus mengharapkan apa dari akun tersebut.
Baca Juga : Dibohongi Guru Sosmed! Fakta: Beli Followers Gak Bikin Algoritma Tiktok/IG Rusak (Cek Faktanya)
2. Like to Lead: Setelah Dapat Interaksi, Lalu Apa?

Sekarang coba lihat metrik Instagram bisnis kamu. Likes ada? Views lumayan? Komentar sesekali muncul? Pertanyaannya, setelah itu terjadi, apa yang kamu harapkan dari audiens?
Banyak akun berhenti di fase “yang penting rame”. Ini yang sebenarnya sangat disayangkan. Interaksi itu nyatanya hanya pintu masuk. Like to lead berbicara tentang kelanjutan setelah orang berhenti scrolling. Coba tanyakan:
- setelah like, apakah audiens tahu langkah berikutnya?
- setelah komen, apakah ada ruang untuk lanjut ngobrol?
- setelah DM masuk, apakah alurnya jelas?
Di realita, banyak peluang hilang karena konten tidak memberi arah. Audiens tertarik, tapi bingung harus berbuat apa. Akhirnya, mereka pergi begitu saja. Pendekatan like to lead biasanya terasa lewat:
- caption yang mengajak berpikir,
- pertanyaan yang relevan dengan masalah audiens,
- konteks yang membuat orang nyaman untuk menghubungi.
Yang perlu di-highlight, Instagram itu bisa, lho menjadi alat marketing canggih untuk bisnis. Redcomm dalam artikelnya menyebutkan kalau social media itu bisa menjadi tempat promosi dan pemasaran yang sangat efektif karena hemat biaya, hasilnya bisa terukur, dan bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Kamu sekarang bisa memanfaatkan Instagram bisnis untuk mendapatkan konversi, bukan hanya sekedar membangun popularitas saja.
Baca Juga : Naikkan Trust & Engagement Instan dengan Buzzer Positif
3. Social Media Officer: Kamu Mengelola Akun, atau Mengelola Hubungan?

Sekarang kita masuk ke bagian yang sering dianggap teknis, tapi dampaknya sangat terasa. Pernah tidak kamu DM brand, lalu balasannya lama, kaku, atau terasa seperti template? Kamu merasakan ada yang berbeda, dan berpikir, “Rasanya langsung berubah, ya?”
Di sinilah peran social media officer jadi krusial. Ia adalah wajah brand di ruang publik.
Coba refleksikan:
- bagaimana gaya bahasa akun kamu saat membalas DM?
- konsisten atau berubah-ubah tergantung siapa yang pegang?
- cepat tanggap atau sering terlambat?
Di lapangan, social media officer menghadapi banyak situasi:
- pertanyaan berulang,
- calon konsumen yang masih ragu,
- komentar publik yang sensitif.
Tanpa panduan yang jelas, respons bisa terasa asal. Audiens menangkap itu dengan cepat, meski kamu tidak menyadarinya. Dalam beberapa studi kasus Coulava, social media officer selalu dilibatkan sejak awal strategi. Mereka harus paham konteks brand, supaya pesan-pesan yang disampaikan oleh mereka sesuai dengan nilai brand dan disukai oleh target audiens.
Baca Juga : Beli Followers Terus Berkurang? Begini Penjelasan Logis & Solusinya
Bagaimana Mengelola Ketiganya Supaya Jalan Berbarengan?
Content strategy, like to lead, dan social media officer sering dipisah-pisah. Padahal di lapangan, ketiganya saling mempengaruhi.
Konten yang jelas memudahkan audiens merespons. Respons yang baik membuka percakapan. Percakapan yang terarah membantu konversi. Semuanya satu alur.
Strategi pengelolaan biasanya dimulai dari:
- menetapkan tujuan akun secara realistis,
- menyusun peta konten berdasarkan peran,
- menyiapkan alur komunikasi dan respons.
Saat sistemnya rapi, Instagram terasa lebih tenang. Kamu tidak lagi kejar-kejar posting, tapi fokus membangun relasi. Pendekatan seperti ini sering digunakan oleh Coulava dalam mengelola akun klien. Instagram bisnis diperlakukan sebagai aset jangka panjang, bukan sekadar kanal promosi sesaat.
Penutup: Instagram yang Sehat Terasa dari Cara Ia Berinteraksi
Instagram bisnis yang dikelola dengan sadar terasa beda. Kontennya nyambung. Arah komunikasinya jelas. Responsnya manusiawi.
Kalau akun kamu sudah aktif tapi belum berdampak, kemungkinan besar salah satu dari tiga hal krusial ini belum berjalan optimal. Sekarang pertanyaannya, bagian mana yang paling terasa relevan dengan kondisi kamu saat ini?
Dari sana, perbaikan bisa dimulai dengan lebih terarah.






