Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan pengakuan mengejutkan di podcast Denny Sumargo mengenai fenomena giveaway yang diduga kuat hanya settingan atau rekayasa. Nama-nama besar seperti Tony Cu dan Willie Salim terseret dalam diskusi panas mengenai bagaimana “ternak followers” dilakukan dengan cara yang tidak etis.
Namun, di balik bagi-bagi iPhone 17 atau motor yang terlihat mewah, ada dampak yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar konten bohong: rusaknya mentalitas penonton.
Baca Juga : Dibohongi Guru Sosmed! Fakta: Beli Followers Gak Bikin Algoritma Tiktok/IG Rusak (Cek Faktanya)
Mekanisme di Balik Layar: Panggung Sandiwara Followers
Dalam video tersebut, seorang narasumber bernama Rizki membongkar bagaimana ia diarahkan untuk berakting dalam konten Willie Salim. Ia diminta melakukan tantangan (seperti mengangkat pohon pisang) dan dijanjikan uang Rp2 juta di depan kamera. Namun kenyataannya, di balik layar uang tersebut diminta kembali dan ia hanya diberi imbalan Rp500 ribu.
Tujuan utamanya? Ternak Followers. Peserta diwajibkan menyebutkan kalimat “Jangan lupa follow IG-nya Willie Salim” sebagai syarat mendapatkan hadiah. Ini adalah taktik cepat untuk menaikkan angka pengikut dengan memanfaatkan harapan orang banyak.
Baca Juga : Naikkan Trust & Engagement Instan dengan Buzzer Positif
Dampak Buruk: Menciptakan “Mental Minta-Minta”
Eten, sosok yang aktif membongkar fenomena ini, menegaskan bahwa konten seperti ini adalah pembodohan publik. Dampak sosialnya sangat nyata:
- Mentalitas Instan: Penonton dididik bahwa uang besar bisa didapatkan hanya dengan keberuntungan atau “mengemis” di kolom komentar.
- Budaya Mengemis Digital: Banyak orang kini memiliki mental “minta-minta”. Mereka berpikir semua konten kreator kaya raya dan wajib membagikan uangnya. Akibatnya, banyak kreator lain yang merasa terbebani karena terus-menerus dikirimi pesan (DM) oleh orang asing yang meminta bantuan finansial [15:48].
- Hilangnya Etos Kerja: Alih-alih bekerja keras, orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengejar giveaway yang ternyata sudah diatur siapa pemenangnya.
Buzzer dan Fake Framing
Istilah “Konspirasi Ternak Follower” yang sempat disinggung oleh Bobon Santoso di kolom komentar video tersebut merujuk pada upaya sistematis mengumpulkan massa dengan cara yang manipulatif. Menggunakan talent yang seolah-olah orang random padahal kru sendiri adalah bentuk penipuan terhadap kepercayaan audiens.
Baca Juga : Beli Followers Terus Berkurang? Begini Penjelasan Logis & Solusinya
Solusi Cerdas: Bangun Branding Tanpa Harus Menipu
Daripada Anda harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli iPhone 17 atau motor demi konten giveaway settingan—yang ujung-ujungnya merusak reputasi dan menciptakan mentalitas pengemis pada audiens Anda—ada cara yang jauh lebih jujur, efisien, dan profesional.
Jika tujuan Anda adalah membangun Social Proof atau meningkatkan angka followers untuk kebutuhan branding bisnis, BisnisOn hadir sebagai solusinya.
Mengapa memilih BisnisOn?
- Lebih Jujur: Anda tidak perlu berbohong kepada publik dengan konten bagi-bagi hadiah palsu yang membodohi orang lain.
- Followers Real Human (Buzzer): Kami menyediakan layanan followers dari akun asli (buzzer) untuk Anda yang ingin interaksi dan branding yang lebih organik tanpa merugikan mentalitas orang lain.
- Opsi Hemat (Bot): Jika budget Anda terbatas, kami juga menyediakan layanan akun bot dengan harga yang sangat terjangkau sebagai pondasi awal angka di profil Anda.
- Efisien: Tidak perlu pusing mengurus logistik giveaway atau membayar kru untuk berakting. Cukup fokus pada konten berkualitas, biarkan kami membantu urusan angka.
Jangan biarkan akun Anda tumbuh di atas kebohongan yang merusak mentalitas orang lain. Bangun kredibilitas Anda secara instan namun profesional bersama BisnisOn.com.
Percayakan kebutuhan followers Anda pada ahlinya, bukan pada drama settingan!






